Gue paling males kalau udah liburan sekolah. Hari libur adalah
hari yang paling membahagiakan buat sebagian orang, tapi enggak buat gue. Bagi
gue hari libur membuat gue menjadi manusia lumut. Gue hanya ngendok di rumah,
sambil berpikir kapan gue bisa ngeluarin telur dari pantat. Tapi itu semua
semakin diperparah saat bokap nyuruh gue untuk jaga toko baju khusus ibu-ibu
yang dia punya.
Gue paling males kalau udah kaya gini. Menurut perhitungan gue,
satu hari di toko sama saja seribu hari di kehidupan nyata. Di toko, gue
seperti terisolasi. Gue enggak bisa ngapa-ngapain, gue hanya duduk manis di
belakang meja.
Hari itu gue udah dateng ke toko dari jam sebelas pagi, biasanya
sih gue datangnya lebih siangan. Tapi berhubung bokap gue nyuruhnya pagi, ya
sudah gue datangnya jam segitu. Di hari libur seperti ini, para pemburu fashion
memang lagi rame-ramenya, toko gue pun menjadi salah satu incaran para ibu-ibu
gaul ini dan ini merupakan kabar buruk untuk gue. Benar. semakin banyak
pelanggan, berarti semakin banyak ibu-ibu. Semakin banyak ibu-ibu, maka semakin
banyak pula sel-sel otak gue yang akan rusak. Inti dari segala inti: gue paling
ogah kalau harus berhadapan sama ibu-ibu.
Dan bener aja, hanya butuh waktu satu jam, toko gue udah jadi kaya
ragunan. Ibu-ibu membeludak. Berhubung karyawan bokap gue cuma ada dua dan
konsumen yang dateng sudah tidak terhitung lagi, maka dengan berat hati gue
terpaksa membantu melayani ibu-ibu ini.
“De yang ini berapa?” Kata
seorang konsumen, menunjuk sebuah baju gamis merah.
“oh, yang itu 250 bu.” Gue sok ngerti, padahal gak tahu harga aslinya berapa.
“mahal amat.”
“bisa kurang kok bu.” Gue bersikap sok baik, padahal hati gue udah ngegerutu dari tadi.
“oh, yang itu 250 bu.” Gue sok ngerti, padahal gak tahu harga aslinya berapa.
“mahal amat.”
“bisa kurang kok bu.” Gue bersikap sok baik, padahal hati gue udah ngegerutu dari tadi.
Ibu heboh ini terus saja bertanya harga-harga baju sama gue, otak
gue udah mulai ruwet gara-gara manusia satu ini. Tapi berhubung gue berperan
sebagai produsen yang baik, gue pun memberikan pelayanan yang full kepada ibu
yang satu ini. Oh iya, ibu ini membawa seorang anak laki-laki, item. kurus.
Kira-kira usianya baru dua tahun. Dari tadi gue perhatiin anak ini gak mau
diem.
Dia gupek sendiri di atas gendongan sang ibu (ya iyalah, kalau di
bawah diseret namanya) mungkin dia bosen merhatiin ibunya yang dari tadi
muter-muter enggak karuan mencari baju yang cocok untuk badan gendutnya.
“de kenapa nangis.” Lagi-lagi gue
mencoba sok baik dengan mencubit pelan pipi anak-anak itu.
“OWEK..OWEK.” dia nangis makin kencang. Ibunya masih berusaha menenangkan si anak kecil itu “ diem nak, nanti disunat loh sama om ini” sambil nunjuk ke gue.
“OWEK..OWEK.” dia nangis makin kencang. Ibunya masih berusaha menenangkan si anak kecil itu “ diem nak, nanti disunat loh sama om ini” sambil nunjuk ke gue.
Gue hanya senyum jelek sambil berpikir apakah
muka gue memang bener mirip tukang sunat. Gue mulai mencari akal untuk
mendiamkan anak kecil satu ini. Tapi di sini gak ada mainan yang bisa membuat
dia tenang yang ada hanya sebuah lakban yang dari tadi nangkring di samping
gue. Melihat lakban yang begitu menggoda, otak licik gue mulai mendapat ide
gila. Bagaimana kalau mulut anak tuyul itu gue lakban aja ya biar diem.
Berhubung saat ini gue masih berperan sebagai produsen yang baik hati, maka ide
gila itu urung gue lakukan. Mata gue mencari-cari lagi, akhirnya tanpa sengaja
gue menemukan sebuah benda berbentuk bulat, berwarna hitam, terletak tepat di
bawah meja. Bola. Gue menemukan bola, entah dari mana datengnya itu bola, gue
enggak mikirin. Yang penting itu bola gue ambil dan gue berikan kepada si anak
kecil itu. Berharap dia menyukainya. “ini abg punya bola nih.” Gue berusaha
merayu si anak kecil agar tenang, sambil melempar-lemparkan bolanya ke atas,
berharap si anak kecil akan tertarik. Si tuyul mulai tenang. Matanya sekarang mingikuti irama bola yang
lagi gue lempar-lempar ke atas. Merasa mendapatkan sedikit kesempetan, gue
langsung aja kasihin itu bola (malang) ke si tuyul. Dan dengan cepatnya,
sekarang bola (malang) itu sudah berpindah tangan ke si tuyul.
Sekarang, si anak kecil
kesenengan. Ibunya memandang puas ke arah gue.
Dan, tekanan darah gue mulai turun.
Dan, tekanan darah gue mulai turun.
Setelah urusan dengan si anak kecil selesai, gue kembali
menawarkan baju ke ibunya. Tapi masalahnya, menawarkan baju ke ibu itu sama aja
seperti mau nonjok jastin biber. Susah bener. Dari sekian banyak model baju
yang ada, tidak ada satu pun yang menarik di mata dia. Gue mulai gak yakin
kalau dia bakalan beli.
“bingung amat ya.” Kata ibu itu, sambil garuk-garuk gigi. “kalau gamis merah yang tadi cocok gak ya buat saya.”
“cocok kok bu,” kata gue, sotoy “bagus itu, kesannya mewah.”
“coba lihat ada warna apa aja.”
“banyak bu, bentar ya.”
“bingung amat ya.” Kata ibu itu, sambil garuk-garuk gigi. “kalau gamis merah yang tadi cocok gak ya buat saya.”
“cocok kok bu,” kata gue, sotoy “bagus itu, kesannya mewah.”
“coba lihat ada warna apa aja.”
“banyak bu, bentar ya.”
Gue masih kesel sama tragedi anak kecil itu, bagaimana enggak? Gue udah capek-capek
ngelayanin kemauan ibu gaul itu dengan lamanya plus dapet hadiah timpukan dari
anaknya, si anak kecil taadi. Tapi mereka pergi tanpa membeli satu pun barang
dagangan di toko gue. Awas lo kesini lagi!
Keadaan di toko sekarang sudah kembali normal dan gue udah bisa
santai-santai lagi. Konsumen yang masuk pun masih bisa ditanganin oleh dua
orang karyawan besutan bokap gue, jadi gue gak perlu repot-repot lagi untuk
bantuin ngelayanin. Bos gila.
Kalau lagi kaya gini, gue paling seneng melihat-lihat buku catetan
toko, yang di dalamnya berisi pemasukan toko setiap harinya. Gue baru sadar,
ternyata pemasukan yang diterima bokap gue dari berdagang setiap harinya bisa
mencapai satu jutaan, bahkan lebih. Itu baru satu satu toko, sedangkan bokap
gue punya lima toko (bukan nyombong lo!) jadi bisa dipastikan sehari ayah gue
memperoleh keuntungan kurang lebih lima jutaan. Cukup buat ngegaji PNS selama
dua bulan.
Rahasia kenapa bokap selalu menuntut gue agar bisa berdagang pun
terkuak. Gara-gara buku catetan ajaib itu, gue semakin ingin mencoba berdagang.
Agar bisa lebih dari bokap gue dan satu hal yang membuat gue mantap untuk bisa
berdagang di suatu hari nanti adalah, kenyataan bahwa Nabi Muhammad SAW
sekalipun adalah seorang pedagang. Dan berdagang adalah suatu pekerjaan terbaik
dari yang terbaik. Dari berdagang pula nantinya gue akan bisa menciptakan
lapangan pekerjaan buat orang banyak. Mantap.
Beberapa menit setelah hayalan gue menjadi pedagang (yang katanya)
sukses berakhir, bokap gue dateng.
“udah laris berapa pan?” Bokap gue nanya.
“udah sejuta lebih tuh yah.” Jawab gue bangga, padahal yang dari tadi ngelarisin itu karyawan bokap bukan gue.
“alhamdulillah, dagang itu enak kan?” Lanjut bokap gue, kali ini dengan senyuman.
“Iya yah.” Jawab gue mantap.
“udah sejuta lebih tuh yah.” Jawab gue bangga, padahal yang dari tadi ngelarisin itu karyawan bokap bukan gue.
“alhamdulillah, dagang itu enak kan?” Lanjut bokap gue, kali ini dengan senyuman.
“Iya yah.” Jawab gue mantap.
Selang beberapa menit, gue memperhatikan gerak-gerik bokap udah
mulai aneh. Gue ngelihat dia dari tadi sibuk ngerogoh-rogoh kantong baju sampai
celananya, seperti mencari sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
“Hp ayah gak ada.” Sepontan ayah gue panik.
“apa?” Gue ikutan panik, alis gue mengkerut kaya ikan cucut.
“aduh kayak mana ini,” bokap gue semakin terlihat panik “mana semua dokumen rahasia ada semua di Hp itu.”
“Haaah?”
“apa?” Gue ikutan panik, alis gue mengkerut kaya ikan cucut.
“aduh kayak mana ini,” bokap gue semakin terlihat panik “mana semua dokumen rahasia ada semua di Hp itu.”
“Haaah?”
Dokumen rahasia? itu sebenarnya Hp apa berangkas. Bokap gue
langsung pergi, menuju tempat yang diduga letak HP nya itu hilang. Gue belum pernah
melihat wajah bokap sepanik itu sebelumnya, terakhir gue hanya melihat ekspresi
bokap yang sangat tegang saat mau nyunatin anaknya ini.
Sepuluh menit kemudian, bokap gue belum balik lagi. Gue mulai
yakin kalau Hp dia hilang. Tapi tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari
dalam laci meja toko. Gue langsung ngebuka itu laci, suaranya semakin keras.
Gue rogoh-rogoh itu laci, ternyata gue nemuin tu Hp bokap gue yang (diduga)
hilang. Gue liat Hp-nya ternyata ada panggilan masuk dari nyokap gue. Gue angkat
Hp-nya.
“halo bu,” kata gue
“halo.” Kata nyokap di ujung sana “tolong ya bu balikin hape ini.”
“Haah,” gue kaget “halo bu, ini Ipan.”
“iya bu tolong ya balikin hape-nya,” suara nyokap mulai terdengar panik “penting itu bu hape-nya”
“halo.” Kata nyokap di ujung sana “tolong ya bu balikin hape ini.”
“Haah,” gue kaget “halo bu, ini Ipan.”
“iya bu tolong ya balikin hape-nya,” suara nyokap mulai terdengar panik “penting itu bu hape-nya”
Gue semakin sedih karenya nyokap sekali pun tidak bisa membedakan
suara anaknya dengan ibu-ibu perawan. Hanya ada dua kemungkinan saat ini.
Kuping nyokap jadi budeg akibat kabar yang mengejutkan bahwa Hp bokap hilang
atau memang bener suara gue kaya ibu-ibu perawan. Entah.
“halo, halo bu,” gue mulai lesu “ini Ipan bu, Ipan.”
“oh Ipan,” nyokap gue mulai sadar.
“iya, hape ayah gak hilang, ini lagi sama Ipan. Ada dilaci hape-nya”
“ya udah pan kirain hilang.”
“oh Ipan,” nyokap gue mulai sadar.
“iya, hape ayah gak hilang, ini lagi sama Ipan. Ada dilaci hape-nya”
“ya udah pan kirain hilang.”
Setelah pembicaraan lewat Hp yang menyedihkan buat gue itu
terputus, gue langsung ngejerit dalem hati.
AAAAAHHH!!!
AAAAAHHH!!!
Apa mungkin suara gue kalau dari telepon terdengar seperti
ibu-ibu?
Kalau iya, apakah selama ini pacar gue telah mengetahui bahwa suara gue terdengar seperti ibu-ibu saat telponan?
Kalau iya, apakah selama ini pacar gue telah mengetahui bahwa suara gue terdengar seperti ibu-ibu saat telponan?
Tapi kenapa selama ini pacar gue diem aja mengetahui suara
pacarnya seperti ibu-ibu?
Apakah dia sengaja menyembunyikan rahasia besar ini, karena takut gue frustasi lalu bunuh diri?
APAKAH? APAKAH? TIDAAKK!!!
Apakah dia sengaja menyembunyikan rahasia besar ini, karena takut gue frustasi lalu bunuh diri?
APAKAH? APAKAH? TIDAAKK!!!
Gue sedih dengan kejadian yang baru saja membuat gue pilu. Gue
sempet berpikir untuk pergi dari kehidupan yang fana ini, tapi gue gak punya
uang buat naek angkot. (maksud.)
Oh tuhan, semua ini begitu singkat, sampai aku tidak bisa merasakan sakitnya.
Oh tuhan, semua ini begitu singkat, sampai aku tidak bisa merasakan sakitnya.
Bokap gue dateng masih dengan muka paniknya.
“hape ayah ilang beneran pan, di toko sana juga gak ada” kata
bokap, sedih.
“nih yah.” Gue ngasihin Hp bokap.
“nih yah.” Gue ngasihin Hp bokap.
Bokap gue kaget mengetahui Hp nya tahu-tahu ada di gue “kok ada
sama Ipan?”
“ada, orang hape-nya di dalem laci juga,” gue masang muka melas.
“oh, kirain ayah bawa”
“emmmm”
“ada, orang hape-nya di dalem laci juga,” gue masang muka melas.
“oh, kirain ayah bawa”
“emmmm”
Malem harinya gue nelpon pacar gue, hanya untuk memastikan suara
gue enggak kaya ibu-ibu kalau dari telepon.
“halo sayang.” Sapa gue.
“iya sayang.” Kata dia di ujung sana “tumben malem-malem nelpon?”
“iya sayang.” Kata dia di ujung sana “tumben malem-malem nelpon?”
Ketara banget gue gak pernah nelpon dia malem-malem.
“aku mau nanya sesuatu sama kamu.”
“nanya apaan?”
“apa bener, kalau lewat hape seperti saat ini, suara aku terdengar kaya ibu-ibu ya?”
“loh kok kamu tahu?”
AHHHH……
“nanya apaan?”
“apa bener, kalau lewat hape seperti saat ini, suara aku terdengar kaya ibu-ibu ya?”
“loh kok kamu tahu?”
AHHHH……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar